Memerangi Teroris Atau Memerangi Islam?
Kalian semua pasti masih inget pemberitaan tentang penangkapan tujuh Da’i asal Philipina yang di tangkep di semarang. Walaupun mereka di tangkap dengan alasan menyalahgunakan visa, tapi kita tahu bahwa polisi sekarang ini seperti kebakaran jenggot. Hati-hati jika kalian semua untuk pria memakai celana gantung, bersorban dan berjenggot dan untuk wanitanya memakai cadar, karena menurut penilaian polisi atau intelejen kalian itu pasti penganut islam garis keras yang mengajarkan terorisme. Masih inget juga wacana tentang pengawasan aktifitas para Da’i dalam memberikan ceramah? Walaupun pada saat itu Kapolri membantah wacana tersebut, tapi hal itu sudah terlanjur menjadi konsumsi publik. Mungkin saja jika hal tersebut tidak di ketahui oleh publik, pengawasan terhadap para Da’i dalam memberikan ceramah tetap dilakukan. Dan seperti kembali ke jaman Soeharto dulu, banyak para Da’i kita yang di tangkap dan di cuci otaknya karena berceramah terlalu vokal.
Kenapa sampai sebegitu penanganan pemberantasan teroris oleh polisi atau intelejen kita? Sehingga tidak salah jika kita sampai berpikir, ingin memberantas teroris atau ingin memberantas islam? Apakah karena ulah segelintir orang yang melakukan tindakan terorisme, lantas kita bisa menggenaralisir bahwa islam itu adalah agama teroris? Lantas, apakah mereka-mereka itu berpikiran sama jika ada segelintir orang yang tidak beragama Islam melakukan tindakan terorisme, apakah mereka-mereka itu juga akan menggenalisir bahwa agama orang tersebut adalah agama teroris? Dan melakukan tindakan atau perlakuan yang sama dengan yang mereka lakukan terhadap para ulama atau orang yang mereka anggap radikal?