<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>harddian.com &#187; Hukum</title>
	<atom:link href="http://harddian.com/category/hukum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harddian.com</link>
	<description>sebuah catatan seorang harddian.......</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 03:56:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>KUHAP Pangkal Kesemrawutan Proses Peradilan</title>
		<link>http://harddian.com/2009/03/23/kuhap-pangkal-kesemrawutan-proses-peradilan/</link>
		<comments>http://harddian.com/2009/03/23/kuhap-pangkal-kesemrawutan-proses-peradilan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 13:18:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harddian.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Rancangan KUHAP yang tengah dipersiapkan mengarah pada penyederhanaan proses peradilan yang mengedepankan asas keterpaduan. Solusi atau justru embrio masalah baru? Sebagian kalangan memandang terlibat dalam proses peradilan sama saja dengan memasuki lingkaran setan yang penuh dengan ketidakpastian dan kesemrawutan. Amir Syamsuddin, advokat senior, mengatakan seseorang yang tengah menjalani proses hukum seringkali menjadi terombang-ambing karena tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rancangan KUHAP yang tengah dipersiapkan mengarah pada penyederhanaan proses peradilan yang mengedepankan asas keterpaduan. Solusi atau justru embrio masalah baru?</p>
<p>Sebagian kalangan memandang terlibat dalam proses peradilan sama saja dengan memasuki lingkaran setan yang penuh dengan ketidakpastian dan kesemrawutan. Amir Syamsuddin, advokat senior, mengatakan seseorang yang tengah menjalani proses hukum seringkali menjadi terombang-ambing karena tidak jelasnya ketentuan tahapan proses peradilan. Misalnya, jangka waktu penyelidikan atau penyidikan yang tidak jelas batasannya. Alhasil, oknum-oknum penegak hukum terkadang memanfaatkan kelemahan peraturan perundang-undangan untuk mengeruk kekuntungan pribadi.</p>
<p>“Tidak jarang mereka (oknum penegak hukum, red.) hanya mencari popularitas semata, terutama jika kasus tersebut berkaitan dengan public figure yang terkenal,” kata Amir dalam cara diskusi ‘Transparansi dan Tanggung Jawab Profesionalisme Kepolisian dan Kejaksaan dalam Kerangka Integrated Criminal Justice System” yang diselenggarakan Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN).<br />
<span id="more-94"></span><br />
Farouk Muhammad, Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), berpendapat problematika yang diungkapkan Amir berpangkal pada UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan tersebut adalah tidak tegasnya batasan-batasan waktu pada beberapa tahapan dalm proses peradilan. “Pelimpahan BAP misalnya tidak ditentukan kapan harus dilakukan,” tukas jenderal polisi bintang tiga ini.</p>
<p>Oleh karenanya, Farouk memandang revisi terhadap KUHAP adalah sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi harus dilakukan. Namun, Farouk menambahkan terlepas dari isi peraturan perundang-undangan yang dipandang memiliki kelemahan, diperlukan sistem pengawasan yang efektif untuk mencegah terjadinya penyelewengan dalam proses peradilan. Selain itu, diperlukan juga suatu sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) antar instansi penegak hukum terkait, khususnya Kepolisian dan Kejaksaan yang memegang peranan penting dalam tahap penyelidikan dan penyidikan.</p>
<p>Sementara itu, anggota Komisi III dari Fraksi PPP Maiyasyak Johan menegaskan integrated criminal justice system perlu dilakukan pada jalur yang semestinya yakni, dalam kerangka hukum tata negara (HTN). Terkait hal ini, Maiyasyak memandang perlu diadakan reposisi Kepolisian dan Kejaksaan dalam rangkaian proses peradilan pidana. Satu hal yang menurut Maiyasyak harus ditata-ulang adalah pemberian diskresi yang begitu besar kepada Kepolisian dan Kejaksaan.</p>
<p>“Tugas polisi dan jaksa adalah menjalankan undang-undang bukan justru menafsirkannya. Yang berwenang melakukan penafsiran adalah hakim dalam proses persidangan,” kata advokat yang sekarang mengnon-aktifkan diri ini.</p>
<p>Pendapat Maiyasyak dibantah Marwan Effendy, Direktur Penuntutan pada Jampidsus. Marwan mengatakan ketidakjelasan peraturan perundang-undangan  justru menjadi alasan utama para jaksa melakukan penafsiran. Apalagi, lanjutnya, kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 8 UU No. 16/2004 tentang Kejaksaan yang mewajibkan jaksa untuk menggali nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.</p>
<p>Pasal 8<br />
(4)  Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, jaksa senantiasa bertindak berdasarkan hukum dengan mengindahkan norma-norma keagamaan, kesopanan, kesusilaan, serta wajib menggali dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat, serta senantiasa menjaga kehormatan dan martabat profesinya.</p>
<p>Rancangan KUHAP simplifikasi<br />
Pandangan berbeda disampaikan oleh pakar hukum pidana Andi Hamzah. Dia berpendapat pangkal dari permasalahan dalam proses peradilan pidana tidak hanya substansi undang-undang yang tidak jelas, tetapi juga karena KUHAP menganut konsep yang ia namakan konsep ‘domino’. Andi menjelaskan KUHAP memisahkan kewenangan Kepolisian dan Kejaksaan berdasarkan tahapan-tahapan dalam proses peradilan pidana.</p>
<p>“Seharusnya konsep yang digunakan adalah integrated atau terpadu sehingga Kepolisian tidak lepas tangan begitu saja begitu berkas dilimpahkan ke proses penuntutan,” katanya.</p>
<p>Prof. Andi menjelaskan konsep domino tidak lagi akan diterapkan dalam rancangan KUHAP. Nantinya, penyidikan dan penuntutan akan disinergikan dalam satu tahap. “Apabila diperlukan, pada saat persidangan penuntut umum dapat melakukan penyidikan tambahan,” sambungnya.</p>
<p>(sumber: http://www.hukumonline.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harddian.com/2009/03/23/kuhap-pangkal-kesemrawutan-proses-peradilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUMBER KKN</title>
		<link>http://harddian.com/2008/09/02/sumber-kkn/</link>
		<comments>http://harddian.com/2008/09/02/sumber-kkn/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 05:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dian.ind.ws/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[(Buat bahan renungan copas dari milis hukum online dot com) KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) sangatlah susah dan mungkin termasuk mustahil dihilangkan dari Indonesia, karena sebenarnya KKN tersebut merupakan bagian dasar dari bangsa Indonesia sendiri yang menganut paham penyelesaian dengan sistem kekeluargaan. Paham kekeluargaan ini selain sebagai sumber KKN juga sumber ketimpangan keadilan dalam masyarakat; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Buat bahan renungan copas dari milis hukum online dot com)</p>
<p>KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) sangatlah susah dan mungkin termasuk mustahil dihilangkan dari Indonesia, karena sebenarnya KKN tersebut merupakan bagian dasar dari bangsa Indonesia sendiri yang menganut paham penyelesaian dengan sistem kekeluargaan. Paham kekeluargaan ini selain sebagai sumber KKN juga sumber ketimpangan keadilan dalam masyarakat; dengan sistem kekeluargaan ini hukum negara bisa tidak berlaku sama sekali.<br />
<span id="more-28"></span><br />
Kita tarik sebuah permisalan: jika ada dua orang warga yang bersengketa, entah itu persengketaan yang cukup besar atau remeh, maka orang yang bersalah jika sudah terpojok, dan pasti kalah dalam hukum, dia pasti jalan keluar dengan sistem kekeluargaan. Sampai pada tataran lalu lintas di jalan, yang tidak ada kaitannya dengan perihal kekeluargaan, rata-rata orang yang melanggar lalu lintas di jalan akan bilang ketika akan ditilang: udah pak, selesaikan secara kekeluargaan saja, otomatis polisi akan senang jika sang pelanggar menyelesaikan dengan kekeluargaan tersebut, karena duit yang semula masuk ke dalam kas negara akan lari ke kantongnya sendiri. Makin banyak yang di tilang, makin banyak orang yang menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan, makin tebal duit sang polisi. Makanya banyak polisi yang suka nyari-nyari kesalahan, biar bisa dapat ceperan dari hasil kekeluargaan.</p>
<p>Dalam sistem pendidikan pun hal seperti ini normal terjadi di Indonesia. Para orang tua yang memiliki anak kurang begitu mampu dalam berpikir, dan kelihatan tidak akan lulus, mereka akan datang kepada pimpinan sekolahnya atau kepada siapa yang bertanggung jawab kepada kenaikan kelasnya, dan kemudian minta penyelesaian dengan sistem kekeluargaan. Asik kan&#8230;? Sangat menyedihkan&#8230; Belum lagi jika ditambah dengan banyaknya ijazah, baik high school ataupun undergraduate (sarjana), yang didapat dengan jalur kekeluargaan. Tidak sedikit orang yang seperti itu, terutama yang memiliki akses ke dalam sebuah instansi pendidikan. Jangan salahkan mereka jika meski berstatus sarjana, tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Termasuk juga ketidak-profesional pejabat negara yang sedang bertugas adalah karena disebabkan oleh sistem kekeluargaan. Tidak perlu anda masuk kualifikasi untuk sekedar menjadi pejabat negara, tidak perlu didukung dengan skil yang memadai, cukup dengan jalur kekeluargaan anda bisa. Dan itu legal karena berdasarkan kekeluargaan; dan asas kekeluargaan merupakan dasar negara Indonesia yang menganut penyelesaian masalah sebisa mungkin dengan kekeluargaan. Ada dalam PPKn kan? Di pelajaran SMA atau high school?</p>
<p>Nah, jika begini keadaannya: apa mungkin Indonesia bisa bebas dari KKN? Orang yang sudah jelas bersalah dengan mudah lepas dari jeratan hukum jika dia bisa melakukan penyelesaian kekeluargaan dengan orang-orang terkait. Apa fungsi hukum kalau begitu? Hukum akan berfungsi jika jalur kekeluargaan tidak bisa ditempuh. Jika banyak orang bilang Indonesia adalah negara hukum, itu adalah mereka yang tidak tahu realita atau pura-pura tidak tahu. Indonesia bukan negara hukum tapi negara kekeluargaan.</p>
<p>Bayangkan saja jika anda seorang yang miskin tapi cerdas dan qualified dan tidak memiliki jalur kekeluargaan, anda pasti akan mengalami kesulitan, baik dalam melamar pekerjaan, pegawai negeri sipil (PNS) atau apa saja selain jika anda sangat kreatif dan bisa menjadi pemilik usaha sendiri. Karena sistem kekeluargaan akan memprioritaskan keluarga sendiri, meski tidak qualified, atau yang paling banyak melakukan lobi penyelesaian secara kekeluargaan (amplop atau salam tempel). Sekali lagi, fenomena ini dianggap normal and natural bahkan didukung dengan sistem negara. Bisa menghapus KKN? (mimpi kaleee&#8230;) sangat mustahil&#8230; Kecuali jika sistem dirubah dan melarang sistem kekeluargaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harddian.com/2008/09/02/sumber-kkn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkembangnya Alasan-Alasan PHK dalam Praktik</title>
		<link>http://harddian.com/2008/09/02/berkembangnya-alasan-alasan-phk-dalam-praktik/</link>
		<comments>http://harddian.com/2008/09/02/berkembangnya-alasan-alasan-phk-dalam-praktik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 05:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dian.ind.ws/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[PHK. Susunan tiga huruf itu adalah momok yang sangat menakutkan bagi buruh. Betapa tidak. Nasib para buruh hampir pasti berantakan jika mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja. Secara status, seseorang yang di-PHK tidak lagi menyandang predikat buruh di tempatnya bekerja semula. Kalau tak segera dapat kerja baru, ancaman pengangguran ada di depan mata. Secara ekonomi, mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span style="font-family: "><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK. Susunan tiga huruf itu adalah momok yang sangat menakutkan bagi buruh. Betapa tidak. Nasib para buruh hampir pasti berantakan jika mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja. Secara status, seseorang yang di-PHK tidak lagi menyandang predikat buruh di tempatnya bekerja semula. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Kalau tak segera dapat kerja baru, ancaman pengangguran ada di depan mata. Secara ekonomi, mereka yang di-PHK bisa kehilangan sumber pencahariannya.</span></span></span></p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p><em><span style="font-size: x-small;">Alasan dan jenis pemutusan hubungan kerja terus berkembang dalam praktek. Pandangan pengadilan dalam tiap perkara PHK juga tidak seragam.</span></em></p>
<p><span style="font-family: "></p>
<div>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK. Susunan tiga huruf itu adalah momok yang sangat menakutkan bagi buruh. Betapa tidak. Nasib para buruh hampir pasti berantakan jika mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja. Secara status, seseorang yang di-PHK tidak lagi menyandang predikat buruh di tempatnya bekerja semula. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Kalau tak segera dapat kerja baru, ancaman pengangguran ada di depan mata. Secara ekonomi, mereka yang di-PHK bisa kehilangan sumber pencahariannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><a href="http://www.hukumpedia.com/index.php?title=Pemutusan_hubungan_kerja_%28PHK%29#Alasan.2FSebab_PHK"><span><span style="color: #000080;">PHK alias pemutusan hubungan kerja</span></span></a></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> memang bukan barang haram dalam hukum perburuhan di Indonesia. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) mendefinisikan PHK sebagai pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Secara normatif, ada dua jenis PHK, yaitu PHK secara sukarela dan PHK dengan tidak sukarela. Ada beberapa alasan penyebab putusnya hubungan kerja yang terdapat dalam UU Ketenagakerjaan. PHK sukarela misalnya, yang diartikan sebagai pengunduran diri buruh tanpa paksaan dan tekanan. Begitu pula karena habisnya masa kontrak, tidak lulus masa percobaan (<em>probation</em>), memasuki usia pensiun dan buruh meninggal dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK tidak sukarela dapat terjadi antara lain karena buruh melakukan kesalahan berat seperti mencuri atau menggelapkan uang milik perusahaan atau melakukan perbuatan asusila<span> </span>atau perjudian di lingkungan pekerjaan. Selama ini, alasan PHK karena kesalahan berat itu diatur dalam pasal 158 UU Ketenagakerjaan. Pasal ini pernah diajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=11466&amp;cl=Berita"><span style="color: #000080;">Mahkamah Konstitusi dalam putusannya</span></a> menyatakan bahwa kesalahan berat yang dituduhkan kepada buruh harus dibuktikan terlebih dulu oleh putusan peradilan pidana di pengadilan umum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Selain itu PHK tidak sukarela juga bisa terjadi lantaran buruh melanggar perjanjian kerja, PKB atau PP. Perusahaan yang juga sedang melakukan peleburan, penggabungan dan atau perubahan status, memiliki opsi untuk mempertahankan atau memutuskan hubungan kerja. Nah, untuk konteks PHK tidak sukarela ini, hubungan kerja antara pengusaha dengan buruh baru berakhir setelah ditetapkan oleh Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Tidak demikian dengan PHK yang sukarela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable mceVisualAid" style="margin: auto auto auto 2.75pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #b3b300 none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: 1pt medium 1pt 1pt solid none solid solid black #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Alasan PHK</span></strong></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #b3b300 none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: 1pt medium 1pt 1pt solid none solid solid black #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Kompensasi</span></strong></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="border: 1pt solid black; padding: 2.75pt; background: #b3b300 none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pengaturan di UU No 13/2003</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Mengundurkan diri tanpa tekanan</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Berhak atas UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 162 Ayat (1)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Tidak lulus masa percobaan</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Tidak berhak kompensasi </span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 154</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Selesainya PKWT</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Tidak Berhak atas Kompensasi</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 154 huruf b</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja melakukan kesalahan berat</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Berhak atas UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">eks Pasal 158 Ayat (3)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja melakukan Pelanggaran Perjanjian Kerja, Perjanjian Kerja Bersama, atau Peraturan Perusahaan</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 161 Ayat (3)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja mengajukan PHK karena pelanggaran pengusaha</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">2 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH </span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 169 Ayat (1)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pernikahan antar pekerja (jika diatur oleh perusahaan)</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 153</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK Massal karena perusahaan rugi atau force majeure</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 164 (1)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK Massal karena Perusahaan melakukan efisiensi.</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">2 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 164 (3)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Peleburan, Penggabungan, perubahan status dan Pekerja tidak mau melanjutkan hubungan kerja</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 163 Ayat (1)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Peleburan, Penggabungan, perubahan status dan Pengusaha tidak mau melanjutkan hubungan kerja</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">2 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 163 Ayat (2)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Perusahaan pailit</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 165</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja meninggal dunia</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">2 kali UP, 1 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 166</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja mangkir 5 hari atau lebih dan telah dipanggil 2 kali secara patut </span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">UPH dan Uang pisah</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 168 Ayat (1)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja sakit berkepanjangan atau karena kecelakaan kerja (setelah 12 bulan)</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">2 kali UP, 2 kali UPMK, dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 172</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja memasuki usia pensiun</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">opsional</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Sesuai Pasal 167 </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja ditahan dan tidak dapat melakukan pekerjaan (setelah 6 bulan)</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UPMK dan UPH </span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 160 Ayat (7)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 191.6pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pekerja ditahan dan diputuskan bersalah</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 140.8pt; border: medium medium 1pt 1pt none none solid solid #d4d0c8 #d4d0c8 black black;" width="188" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">1 kali UPMK dan UPH</span></p>
</td>
<td class="mceVisualAid" style="padding: 2.75pt; background: #ffffcc none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 166.2pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid #d4d0c8 black black;" width="222" valign="top">
<p class="TableContents" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Pasal 160 Ayat (7)</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Keterangan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">UP = Uang Pesangon, UPMK = Upah Penghargaan Masa Kerja, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">UPH = Uang Penggantian <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Hak ( sumber : <a href="http://www.hukumpedia.com/"><span style="color: #000080;">www.hukumpedia.com</span></a>, <em>diolah</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Berkembang dalam Praktik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Seperti disebutkan di atas, PHK memang menjadi momok tersendiri. Hampir semua buruh pasti tidak mau di-PHK. Karenanya, jika pengusaha memutuskan hubungan kerja, buruh akan mati-matian mempertahankan pekerjaan dan haknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Dalam praktik, Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang diberikan kewenangan oleh UU No 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PPHI) memang lebih banyak menangani perkara perselisihan PHK ketimbang perselisihan lainnya, yaitu hak, kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja. Hal ini menandakan maraknya praktik PHK yang tidak sukarela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Salah satu alasan yang cukup sering digunakan pengusaha untuk menjatuhkan PHK adalah kesalahan buruh karena dianggap menyalahgunakan fasilitas kantor. Anehnya, ada beberapa perkara<span> </span>dimana pengusaha masih menggunakan Pasal 158 UU Ketenagakerjaan sebagai dasar memutuskan hubungan kerja. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Sebut saja perkara antara </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=18611&amp;cl=Berita"><span><span style="color: #000080;">PT Huntsman Indonesia melawan Sabar Siregar</span></span></a></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> di PHI Jakarta. Dalam perkara ini, hakim menolak gugatan pengusaha karena Perjanjian Kerja Bersama yang masih mencantumkan Pasal 158 dianggap tidak memiliki kekuatan mengikat lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Namun, lain uban lain isi kepala. Masih di PHI Jakarta, majelis hakim yang lain malah menabrak kompetensi pengadilan pidana dengan memutuskan hubungan kerja antara <a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=17120&amp;cl=Berita"><span style="color: #000080;">Nudin melawan PT<span> </span>Wisma Bumiputera</span></a> karena dinilai terbukti melakukan penganiayaan terhadap rekan kerjanya sendiri. Padahal, belum ada putusan pidana yang menghukum Nudin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Menarik untuk mencermati perkara antara Maruli Simatupang melawan PT Taylor Indonesia di PHI Jakarta. Majelis hakim pada akhirnya memutuskan hubungan kerja Maruli dengan perusahaan dan memberikan hak atas pesangon karenanya. Uniknya, Maruli dinyatakan bersalah telah memakai uang perusahaan hingga berpuluh-puluh juta. Artinya, tindakan Maruli sebenarnya dapat dikualifisir dalam kesalahan berat sebagaimana diatur pasal 158 UU Ketenagakerjaan. Sementara eks Pasal 158 UU Ketenagakerjaan menyatakan bahwa buruh yang diPHK karena kesalahan berat hanya berhak atas uang penggantian hak, namun <a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=18794&amp;cl=Berita"><span style="color: #000080;">hakim dengan pertimbanganya sendiri memutuskan untuk memberikan uang pesangon</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Perkara lain yang cukup menarik adalah perkara antara karyawan vs manajemen Hotel Grand Menteng. Para karyawan yang didampingi LBH Jakarta menggugat perusahaan karena dianggap melakukan intimidasi atau tekanan psikis sehingga para karyawan mengundurkan diri. Hakim PHI Jakarta mengabulkan gugatan karyawan dengan menyatakan pengunduran diri karyawan tidak sah karena disertai ancaman. Pertimbangan hakim saat itu sangat sederhana. “Para penggugat (karyawan, -<em>red</em>) adalah pekerja kelas menengah ke bawah. Di masa sulit seperti ini sangat tidak masuk akal kalau para pekerja mau mengundurkan diri secara sukarela, padahal tidak ada masalah yang berarti ketika penggugat bekerja di sana,” begitu menurut hakim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">PHK Jenis Baru</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Trend atau perkembangan ternyata juga menjangkit di perselisihan hubungan industrial. Untuk PHK misalnya. Selain yang sudah tegas diatur dalam undang-undang, alasan terjadinya PHK ternyata juga berkembang dalam praktik. Tentu saja harus dengan kesepakatan para pihak, yaitu buruh dan pengusaha, yang biasanya tertuang dalam Perjanjian kerja atau PKB. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Tengok pengalaman Dewi Anggraeni, Sekjen Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) yang mendampingi beberapa <a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=18666&amp;cl=Berita"><span style="color: #000080;">pramugari yang di-PHK</span></a> Garuda Indonesia karena tidak berhasil menurunkan berat badan. Untungnya, majelis hakim PHI Jakarta yang mengadili perkara ini menyatakan bahwa perusahaan telah membuat peraturan dan menjatuhkan sanksi secara sepihak sehingga PHK itu menjadi tidak sah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Modus lain dari perkembangan PHK adalah tindakan pengusaha yang menyewakan perusahaannya, baik aset maupun buruhnya, kepada pengusaha lain. Dengan demikian, nasib buruh menjadi terkatung. Hal ini yang kini sedang diadvokasi oleh Gerakan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) terhadap buruh di Cikarang.<span> </span>“Ini adalah modus baru karena UU Ketenagakerjaan hanya mengenal PHK untuk perusahaan yang menggabungkan diri, melebur atau merubah statusnya. Eh, sekarang malah ada praktik menyewakan aset perusahaan dan buruhnya seperti ini?” keluh Hermawanto, pengacara publik LBH Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Yang agak mutakhir adalah kasus PHK karena pekerja mengikuti aliran agama tertentu. Hal itu yang dialami tiga orang karyawan yang dipecat badan pengelola sebuah masjid terkenal di Jakarta lantaran kedapatan mengikuti aliran Al Qiyadah Al Islamiyah pimpinan <a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=18232&amp;cl=Berita">Mushadeq</a>. Dalam keputusan yang dibuat pada akhir Oktober 2007 itu, jelas seorang sumber <em>hukumonline, </em>ketiga karyawan ini disebutkan tidak berhak atas pesangon atau imbalan apapun. Patut dicatat bahwa UU Ketenagakerjaan jelas menyebutkan bahwa buruh atau pekerja tidak boleh diperlakukan secara diskriminatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Jadi, dalam praktek, alasan untuk mem-PHK seseorang memang terus berkembang melampaui rumusan peraturan perundang-undangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">http://www.hukumonline.com</p>
</div>
<p><!--more--></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harddian.com/2008/09/02/berkembangnya-alasan-alasan-phk-dalam-praktik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UU KIP, Pisau Bermata Dua</title>
		<link>http://harddian.com/2008/09/02/uu-kip-pisau-bermata-dua/</link>
		<comments>http://harddian.com/2008/09/02/uu-kip-pisau-bermata-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 04:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dian.ind.ws/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Bagai pisau bermata dua. Itulah pandangan Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan terhadap Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Menurut Manan, UU yang baru saja disahkan parlemen bulan lalu dan berlaku dua tahun kemudian ini justru bisa mengancam kebebasan pers. Padahal, harusnya beleid ini memayungi kebebasan publik mengakses informasi seluas-luasnya dari badan publik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Bagai pisau bermata dua. Itulah pandangan Sekretaris Jenderal <a href="http://www.ajiindonesia.org/">Aliansi Jurnalis Independen</a> (AJI) Abdul Manan terhadap Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Menurut Manan, UU yang baru saja disahkan parlemen bulan lalu dan berlaku dua tahun kemudian ini justru bisa mengancam kebebasan pers. Padahal, harusnya <em>beleid</em> ini memayungi kebebasan publik mengakses informasi seluas-luasnya dari badan publik.</span></span></p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p><em><span style="font-size: x-small;">Di balik jaminan kebebasan masyarakat memperoleh informasi publik, UU KIP justru bisa jadi ancaman bagi media, peneliti, dan masyarakat umum.</span></em></p>
<p><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Bagai pisau bermata dua. Itulah pandangan Sekretaris Jenderal <a href="http://www.ajiindonesia.org/">Aliansi Jurnalis Independen</a> (AJI) Abdul Manan terhadap Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Menurut Manan, UU yang baru saja disahkan parlemen bulan lalu dan berlaku dua tahun kemudian ini justru bisa mengancam kebebasan pers. Padahal, harusnya <em>beleid</em> ini memayungi kebebasan publik mengakses informasi seluas-luasnya dari badan publik.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Pertahanan-Keamanan dan Perdamaian (<em><a href="http://www.idsps.org/">Insitute for Defence Security and Peace Studies</a></em>, IDSPS) Mufti Makarim sependapat dengan Manan. Menu</span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">r</span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">ut Mufti, <em>wet</em> ini malah mengancam tiga golongan. Pertama, media dan jurnalis. Kedua, para peneliti, khususnya bidang hankam. Dan ketiga, masyarakat pada umumnya yang berhak memperoleh informasi publik.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Kekhawatiran keduanya berdasar pada ketentuan pidana yang tertuang pada UU KIP. Bagusnya, UU KIP memukul palu pidana bagi lembaga publik yang tidak mau berbagi informasi kepada masyarakat. Namun, rupanya UU ini juga punya klausul sanksi bagi masyarakat pengguna informasi. Khususnya pengakses informasi yang tergolong rahasia. Padahal, “definisi rahasia masih kabur di sini,” teriak Manan, yang juga jurnalis Majalah Tempo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Di satu sisi, UU ini hendak menjunjung tinggi hak asasi manusia akan informasi. Namun, rupanya, “ketentuan ini juga terlalu besar memasukkan isu-isu <em>state sovereignity</em>,” timpal Mufti. Negara, bisa saja memainkan alasan integritas nasional atau ancaman separatisme. Walhasil, rahasia negara di atas segala-galanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Celakanya, Indonesia tidak punya jangka waktu kadaluarsa rahasia negara. Mekanisme perpanjangan kadaluarsa yang hampir habis, apalagi. Nihil. Padahal, rahasia, menurut Mufti, ada konteksnya. Makanya, jika sudah kadaluwarsa, rahasia negara harusnya sah-sah saja diketahui oleh publik. “Seperti kasus dokumen Pentagon di Amerika Serikat yang dikuak oleh Washington Post dan New York Times,” sambungnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Manan makin khawatir dengan adanya Rancangan Undang-Undang Intelejen. Draf terakhir RUU ini</span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> ditenggarai</span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> lebih konservatif daripada rancangan awal. Artinya, negara bakal makin tertutup berbagi informasi. Manan mengingatkan, ada ketentuan bahwa hukum yang lebih baru mengalahkan hukum yang lama. Artinya, jika nanti disahkan, “UU Intelejen lebih utama daripada UU KIP,” tuturnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Manan juga mencatat adanya Komisi Informasi. Lembaga inilah yang bakal jadi penengah antara publik pemohon informasi dan lembaga publik yang <em>ogah</em> memberikan informasi yang diminta. Jika ada beda penafsiran “kerahasiaan”, komisi ini bisa menjadi mediator kedua pihak. Jika sengketa berlanjut, bisa maju ke ajudikasi alias sidang komisi. Jika masih ada yang tak puas, bisa banding ke pengadilan negeri. Lalu mentoknya kasasi ke Mahkamah Agung. “Masalahnya soal tafsir apa itu ‘informasi rahasia’. Sedangkan, terus terang saja, peradilan kita belum bisa banyak diharapkan,” seloroh Manan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: "><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Delik material</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Sebenarnya masyarakat bisa berkilah dengan delik material. Artinya, “informasi rahasia” yang dapat memecah-belah keutuhan negara ini harus ditakar dampaknya. Media, misalnya. Berita investigatif yang dianggap “mencuri” rahasia negara itu harus terbukti dahulu dampak materialnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Namun buru-buru Manan tak merekomendasikan argumen delik material itu. Lantaran, bisa-bisa malah jadi bumerang senjata makan tuan. Maklum, Tempo punya pengalaman. Tatkala berperkara dengan pengusaha Tommy Winata, Tempo kena getah klausul delik material. Hakim menganggap berita Tempo soal Tommy membuat keonaran. Pasalnya, massa pembela Tommy menggeruduk kantor Tempo. “Berita kita dianggap sudah menimbulkan kerusuhan,” sambungnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Artinya, menurut Manan, pihak yang enggan memberikan informasi publik dengan berlindung di balik rahasia negara itu bisa merekayasa kerusuhan. “Tinggal bayar saja orang untuk berdemo atau meluruk kantor kita,” tuturnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-family: "><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;">Uji materi</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Menyoroti berbagai kekurangan UU ini, baik Manan maupun Mufti ancan-ancang menguji materi UU KIP. Sayangnya, UU ini baru berlaku dua tahun lagi. “Setidaknya ada waktu panjang untuk mengkaji materi gugatan,” tukas Manan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Mufti juga bakal mengumpulkan perbandingan UU KIP berbagai negara maju. Di negara lain, UU KIP justru memasukkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai konsideran. “Setelah deklarasi internasional, barulah konstitusi yang tertera dalam bagian menimbang.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: "> </span></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;, &quot;Nimbus Sans L [urw]&quot;;"><span style="font-family: ">Akan kita lihat implementasi UU KIP ini. Akan melindungi hak warga untuk tahu, atau lembaga publik makin menutup tirainya.</span></span></p>
<p>http://www.hukumonline.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harddian.com/2008/09/02/uu-kip-pisau-bermata-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MORALITAS HUKUM, Hanya mitos saja&#8230;</title>
		<link>http://harddian.com/2008/09/02/moralitas-hukum-hanya-mitos-saja/</link>
		<comments>http://harddian.com/2008/09/02/moralitas-hukum-hanya-mitos-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 04:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dian.ind.ws/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan berikut didasari pada hukum di amerika. Rasionalitas argumentasinya jelas. Masalah benar ataupun praktikal usulannya sih belum tentu. Barangkali bisa jadi referensi kemana perkembangan acara hukum di Indonesia nantinya. Berikut argumentasi Thane Rosenbaum: Acara televisi Seinfeld episode akhir mendeskripsikan hukum regional baru (state law) Massasuchet. Hukum ini dikenal dengan nama Good Samaritan Law, artinya  third [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan berikut didasari pada hukum di amerika. Rasionalitas argumentasinya jelas. Masalah benar ataupun praktikal usulannya sih belum tentu. Barangkali bisa jadi referensi kemana perkembangan acara hukum di Indonesia nantinya.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Berikut argumentasi Thane Rosenbaum:<br />
Acara televisi Seinfeld episode akhir mendeskripsikan hukum regional baru (state law) Massasuchet. Hukum ini dikenal dengan nama Good Samaritan Law, artinya  third party wajib memberikan pertolongan bagi penduduk yang sedang kesulitan. Dalam episode seinfeld tersebut, seorang pria gemuk mengalami kesulitan keluar dari mobilnya, dan karenanya seorang perampok akhirnya merampok pria tersebut. Aktor-aktor dari Seinfeld yang digambarkan narsistik, &#8220;hard bitten&#8221; newyorker yang sudah terbiasa duduk menonton, menertawakan orang yang sedang kesusahan, akhirnya ditangkap polisi. Pada saat ditangkap, Elain bertanya: &#8220;Lha kenapa? Kami tidak melakukan apapun?&#8221; &#8211; yang justru adalah alasan ditangkapnya mereka itu.</p>
<p>George malah bertanya-tanya heran:&#8221; Tapi mengapa kita harus menolong seseorang?&#8221;</p>
<p>Pengacara yang disewa oleh karakter karakter Seinfeld tersebut kemudian menyampaikan argumentasi berikut:<br />
&#8220;Penduduk tidak perlu untuk menolong siapapun kalau ia tidak mengiginkannya. Inilah dasar menjadi penduduk negara ini, (Freedom to act &#8211; or maybe freedom not to act)&#8221; &#8220;You cannot be a bystander and be guilty. Bystanders are, by definition, innocent. That&#8217;s the nature of bystanding&#8221;</p>
<p>Yang jelas ini adalah hanya acara televisi. Tapi kita sebagai penonton yang bukan amerika, rasanya mudah sekali memandang negara lain seperti apa yang digambarkan di televisi. Faktanya acara tersebut adalah komedi, artinya tidak semua orang amerika atau bahkan juga tidak sebagian besar orang amerika memiliki tingkah laku seperti karakter-karakter seinfeld tersebut. Tapi jika kita indonesia bisa dibilang negara terbelakang dibandingkan mereka, justru memberikan gambaran televisi penduduk yang kurang baik (korup, materialstik, penuh kriminalitas tak terkendali, tidak perduli orang lain, dll sebagainya), sangat mudah bagi pihak luar untuk mempercayainya dan lebih sulit untuk meyakinkan bahwa kenyataan adalah sebaliknya. Sori nyasar sebentar sama peran TV dengan pembangunan citra bangsa (baik terhadap pihak luar maupun ke dalam).</p>
<p>Balik lagi&#8230;  mitos moralitas hukum&#8230;</p>
<p>Kasus ke dua&#8230;.  kita bahas juga film animasi &#8220;The Incredible&#8221;. Di film tersebut, Mr. Incredible dan kawan-kawan superheronya terpaksa harus pensiun dini gara-gara kasus hukum massal. Dalam upaya menolong para penduduk satu penduduk terluka dan mengajukan gugatan hukum terhadap para superhero tersebut.Secara hukum, di amerika tidak ada hukum yang memaksa seseorang untuk berusaha memberikan pertolongan. Menjadi penonton seorang perenang yang sedang tenggelam tidaklah salah. Bicara moral maka itu adalah hal lain. Hukum amerika bahkan memberikan hambatan (disinsentive) untuk mencoba menyelamatkan. Mencoba melakukan CPR yang mengakibatkan orang tersebut mengalami patah tulang rusuk misalnya, akan membuat penolong tersebut dihukum karena mengakibatkan &#8220;bodyly harm&#8221;. Beberapa Negara bagian amerika telah berupaya memodifikasi good samaritan statute untuk memberi perlindungan bagi penduduk yang benar-benar berupaya memberi pertolongan.</p>
<p>Sebelumnya mohon maaf, saya cuma nyalin dan menerjemahkan tapi rasanya kalimatnya jadi kaku. Kalimat berikutnya saya copy langsung saja dari bahasa inggrisnya.</p>
<p>&#8220;There is no legal duty to act, yet there is a clear legal conseqence to acting in ways that bring about unexpected harm. The unsucessful rescue results in civil liability partly becaus the duty to rescue itself is nonexixtent. Under the law, a rescue is an independent voluntary act &#8211; with all assumptions of liability &#8211; rather than as a compulsary moral response to someone in danger. In attempting a rescue, the rescuer is acting beyon the call of duty, therefore, he is held responsible for any damage traceable to his improvised efforts. Paradoxically, the punishment falls not on the person who fails to act, but rather on the one who acts with only qualified success.</p>
<p>Without a legal duty, the rescuer&#8217;s choice is purely a moral one. By doing the right thing, he is taking a chance, because liability can attach to his chivalry. The burden is placed on the rescuer to be perfect in his execution. This is true despite the fact that rescues are normally performed in the heat of the moment and without time for rehearsal. At the end of a failed rescue, the hero may not get any medals, but they may get slapped with a lawsuit. SUCH a RESULT is clearly UNJUST and IMMORAL.</p>
<p>Under our legal system, rescue amounts to an unrequited, one-sided risk: The rescuer puts his body and his life on the line, and at the same time, exposes himself to possible liability. The law essentially says&#8221; be careful when you take your first step toward rescuing a fellow human being, because you are not required to do so, and the coice is not without consequences. The innocent by stander is ultimately better off. Morally questionable, but at least safe from the law&#8217;s harsh judgement.Instead of encouraging humanitarian intervention, the legal system sends an implicit message that rescue is risky and indifference is safe.&#8221;</p>
<p>Dengan dasar sistem legal yang seperti ini, rasanya tidak heran kalau masyarakat amerika mulai hilang keinginan membantu. hidup hanya untuk diri sendiri, egoistis dan terkesan kejam. Dan parahnya masyarakat dunia yang banyak melihat acara tv dari amerika menyerap ketidakmoralan ini.</p>
<p>Mohon bahasannya di Indonesia???  Yang jelas kalau ada pencuri atau perampok digebukin rame-rame, saya rasa belum pernah ada penduduk yang masuk penjara gara-gara menolong korban. Mudah-mudahan sih tidak ada perkembangan ke arah yang salah. Tanpa hukum yang seperti amerika saja, banyak yang tidak mau memberikan bantuan, apalagi jika sampai ada hukum seperti yang di amerika itu&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harddian.com/2008/09/02/moralitas-hukum-hanya-mitos-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

